Aku Tak Ingin Seperti Clara

Aku tak ingin seperti Clara. Kamu tau siapa Clara itu? Clara adalah hantu anak kecil di sekolah tempatku mengajar untuk beberapa bulan. Ya, dia adalah hantu anak kecil. Kamu mau tau darimana aku bisa tau? Mari aku ceritakan...

Saat itu hari Rabu, aku duduk bersama beberapa orang guru untuk sekedar mengecek di kelas mana kami akan masuk. Lalu seorang guru mengatakan bahwa ia tak mau lagi masuk di kelas tertentu. Bukan karena anak didiknya nakal, tetapi karena beliau melihat sesuatu yang seharusnya tak dilihat. Aku kemudian penasaran, lalu beliau menceritakan pengalamannya. Sontak aku memutuskan tidak akan masuk di kelas tersebut lagi. Aku memang berani dalam banyak hal, tetapi untuk urusan dunia lain aku mundur.

Datanglah beberapa anak ke tempatku dan para guru bercerita, lalu kemudian aku bertanya kepada mereka bahwa memang ada dan mereka sudah terbiasa. Ini gila pikirku! Bagaimana bisa? dan mereka menjawab "ya karena udah biasa, bu". Namanya Clara dan Mirna. Clara masih kecil, sementara Mirna tak dijelaskan. Ia anak kecil yang hanya butuh teman bermain, kadang-kadang minta diajak bermain, kadang-kadang menumpang dipunggung seseorang, kadang-kadang diam mendengarkan penjelasan guru. Intinya sewaktu masih hidup dia kurang mendapat perhatian dari orang tua dan teman-teman.

Tidak berani aku menceritakan lebih detail, saat mengetik ini saja aku sejujurnya dalam keadaan ketakutan. Tetapi bukan itu maksudku menuliskan cerita ini, aku hanya tidak ingin seperti Clara.

Sejujurnya ketika beranjak dewasa, mencari teman itu jauh lebih sulit. Teman ada, tetapi tak banyak yang dapat diajak bermain. Semua orang dewasa mempunyai urusan masing-masing dan terkadang waktu untuk sekedar bermain dari jauh-jauh hari harus dibatalkan lantaran urusan mendesak oleh individu. Dari sinilah aku merasa sekedar untuk memiliki teman yang dapat diajak bermain merupakan suatu yang sangat berharga. Dan untuk alasan itu pulalah aku lebih senang bermain bersama anak-anak. Mungkin pada satu kesempatan aku merasa beruntung memiliki teman-teman yang bersedia mendengarkan keluh kesah walau tak banyak memberi masukan. Tetapi disisi lain ketika aku mulai mengajak mereka bermain atau sekedar meminta sedikit waktunya untuk menemaniku, mereka menolak bahkan cenderung menghilang. Keluarga pun demikian, aku seperti ada tetapi tak ada bagi mereka.

Aku tak ingin seperti Clara, hidup di dunia kesepian, lalu mati mencari teman untuk menemani. Sungguh aku membenci orang-orang yang menghabiskan waktu bersama kekasihnya dan melupakan temannya. Memang hak individu untuk bersosialisasi dengan siapapun, tetapi terkadang orang-orang sepertiku membutuhkan jawaban, "Yuk!" atas ajakan, "Main yuk!", bukan alasan "yah udah ada acara sama dia" atau "atur aja, kalau yg lain ikut, gua ikut".

Aku mendukung keponakanku yang berusia 5 tahun untuk main keluar sampai larut sore dibanding hanya menonton TV sepanjang hari, dan aku menyesali masa-masa teknologi sekarang ini. Usia hanyalah angka, aku ingin bermain selamanya.


Comments

Popular posts from this blog

Solo Traveling Celebes 2017

Melarikan Diri ke Rinjani

Solo Traveling Celebes 2017 Part III