Catatan Tanpa Judul
Pernahkah kalian merasa begitu tidak diinginkan oleh siapapun? Sekeras apapun kalian berusaha untuk terlihat tegar namun akhirnya jatuh juga...
Selamat datang di tulisan pertama saya tahun ini. Sebenarnya banyak sekali yang ingin diceritakan dari awal tahun sampai saat ini, namun lagi-lagi, rasa malas selalu menjadi pemenangnya.
Awal tahun 2019 saya tidak cukup baik. Sampai detik ini pun sebenarnya tidak terlalu baik, hanya saja saya selalu berusaha untuk tidak peduli. Tetapi, sekeras apapun saya untuk terlihat tidak peduli, akan ada saat di mana saya begitu teluka akan suatu hal.
Pernahkah kalian menge-check satu per satu kontak yang ada di HP kalian?
Pernahkah kalian menge-check dengan siapa saja kalian pernah berkomunikasi, baik di line, whatsapp, atau media sosial lainnya?
Pernahkah kalian melihat satu per satu followers kalian yang berjumlah ratusan baik di instagram maupun twitter?
Saya sering.
Saya tidak tahu apakah memang di usia sekarang di mana teman memang sesuatu yang sangat berharga atau mungkin hanya saya saja yang merasakan sementara yang lain baik-baik saja. Saya merasa semakin bertambah usia (yang sebenarnya berkurang) jumlah teman semakin sedikit.
Kita memiliki ratusan teman di media sosial, kita tergabung ke dalam lebih dari satu group di media sosial, kita berinteraksi dengan mereka semua melalui media sosial. Tetapi dalam kenyataannya kita hanya sedang sendiri di dalam kamar kita, melihat interaksi yang terjadi, bergabung dalam interaksi tersebut, lalu kembali ke dunia masing-masing. Dunia kita sendiri....
Malam ini, saya sedang berada di kamar sehabis seharian bekerja. Sebenarnya tidak seharian, karena saya pulang pukul 15:00, menulis cerita ini karena saya merasa saya tidak diinginkan oleh siapapun.
Padahal saya sudah berjanji dengan diri sendiri di tahun ini tidak akan pernah bergantung kepada orang lain, tetapi jangankan bergantung, rasanya berteman saja ternyata masih tidak ada yang menginginkan.
Saya ingat punya murid "spesial" di sekolah. Setiap kali saya bertemu dengannya, yang selalu dia katakan adalah, "Miss Ulpah, Kay sayang Miss Ulpah".
Pernah dia malu mengatakannya? Tidak.
Apakah karena dia "spesial" sehingga dia tidak memiliki perasaan? Oh kalau begitu saya lebih memilih anak yang spesial tetapi jujur dengan perasaannya sendiri.
Kita seringkali terhalang gengsi untuk mengungkapkan rasa sayang kepada seseorang yang memang kita sayang. Saya tidak bicara sayang dalam artian suka. Tetapi karena bersyukur kalian ada, bersyukur kalian bisa membuat tertawa, bersyukur kita bisa berbagi rasa.
Rasa-rasanya saya akan selalu jadi orang yang paling sayang tetapi paling juga disia-siakan.
Saya selalu menge-check kontak di HP saya untuk saya ajak bermain.
Saya selalu menge-check pesan lama di line ataupun whatsapp saya untuk saya ajak jalan.
Saya selalu melihat followers saya baik di instagram ataupun twitter untuk diajak ketemuan.
Tidak ada yang pernah memberikan kepastian. Tidak mengapa, saya sudah terbiasa.
Kalau suatu saat nanti saya pergi bertualang sendiri, jangan pernah katakan saya egois. Mungkin saya pernah berjuang untuk sesuatu yang dianggap sepele, kemudian ketika saya butuh saya tidak diperjuangkan kembali.
Saya akan terus menulis. Entah akhir dari tulisan ini nantinya saya akan bahagia atau saya akan mati muda, saya tidak tahu yang mana.
Selamat datang di tulisan pertama saya tahun ini. Sebenarnya banyak sekali yang ingin diceritakan dari awal tahun sampai saat ini, namun lagi-lagi, rasa malas selalu menjadi pemenangnya.
Awal tahun 2019 saya tidak cukup baik. Sampai detik ini pun sebenarnya tidak terlalu baik, hanya saja saya selalu berusaha untuk tidak peduli. Tetapi, sekeras apapun saya untuk terlihat tidak peduli, akan ada saat di mana saya begitu teluka akan suatu hal.
Pernahkah kalian menge-check satu per satu kontak yang ada di HP kalian?
Pernahkah kalian menge-check dengan siapa saja kalian pernah berkomunikasi, baik di line, whatsapp, atau media sosial lainnya?
Pernahkah kalian melihat satu per satu followers kalian yang berjumlah ratusan baik di instagram maupun twitter?
Saya sering.
Saya tidak tahu apakah memang di usia sekarang di mana teman memang sesuatu yang sangat berharga atau mungkin hanya saya saja yang merasakan sementara yang lain baik-baik saja. Saya merasa semakin bertambah usia (yang sebenarnya berkurang) jumlah teman semakin sedikit.
Kita memiliki ratusan teman di media sosial, kita tergabung ke dalam lebih dari satu group di media sosial, kita berinteraksi dengan mereka semua melalui media sosial. Tetapi dalam kenyataannya kita hanya sedang sendiri di dalam kamar kita, melihat interaksi yang terjadi, bergabung dalam interaksi tersebut, lalu kembali ke dunia masing-masing. Dunia kita sendiri....
Malam ini, saya sedang berada di kamar sehabis seharian bekerja. Sebenarnya tidak seharian, karena saya pulang pukul 15:00, menulis cerita ini karena saya merasa saya tidak diinginkan oleh siapapun.
Padahal saya sudah berjanji dengan diri sendiri di tahun ini tidak akan pernah bergantung kepada orang lain, tetapi jangankan bergantung, rasanya berteman saja ternyata masih tidak ada yang menginginkan.
Saya ingat punya murid "spesial" di sekolah. Setiap kali saya bertemu dengannya, yang selalu dia katakan adalah, "Miss Ulpah, Kay sayang Miss Ulpah".
Pernah dia malu mengatakannya? Tidak.
Apakah karena dia "spesial" sehingga dia tidak memiliki perasaan? Oh kalau begitu saya lebih memilih anak yang spesial tetapi jujur dengan perasaannya sendiri.
Kita seringkali terhalang gengsi untuk mengungkapkan rasa sayang kepada seseorang yang memang kita sayang. Saya tidak bicara sayang dalam artian suka. Tetapi karena bersyukur kalian ada, bersyukur kalian bisa membuat tertawa, bersyukur kita bisa berbagi rasa.
Rasa-rasanya saya akan selalu jadi orang yang paling sayang tetapi paling juga disia-siakan.
Saya selalu menge-check kontak di HP saya untuk saya ajak bermain.
Saya selalu menge-check pesan lama di line ataupun whatsapp saya untuk saya ajak jalan.
Saya selalu melihat followers saya baik di instagram ataupun twitter untuk diajak ketemuan.
Tidak ada yang pernah memberikan kepastian. Tidak mengapa, saya sudah terbiasa.
Kalau suatu saat nanti saya pergi bertualang sendiri, jangan pernah katakan saya egois. Mungkin saya pernah berjuang untuk sesuatu yang dianggap sepele, kemudian ketika saya butuh saya tidak diperjuangkan kembali.
Saya akan terus menulis. Entah akhir dari tulisan ini nantinya saya akan bahagia atau saya akan mati muda, saya tidak tahu yang mana.
Tangerang, 14 Januari 2019
9:27 PM
thanks for sahring ,.
ReplyDelete